Total Tayangan Halaman

Senin, 24 Januari 2011

Tafsir Surah Al-Fatihah

(Ummul Qur-an/Induk al-Quran, Ummul Kitab/Induk al-Kitab, dan as-Sab’ul Matsani/Tujuh yang berulang-ulang)



Surah ini dinamai Al-Fatihah (artinya “Pembuka”), di antaranya karena bacaan Al-Quran dalam salat dimulai dengan surah ini. Surah ini juga mempunyai banyak nama lain, antara lain Ummul-Kitab, Asy-Syifa’, Al-Waqiyah, Al-Kafiyah, Asas Al-Quran, dan sebagainya.



Bismillahir-rahmanir-rahim (Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).



            Para sahabat memulai membaca Al-Quran dengan ucapan ini. Membaca bismillahir-rahmanir-rahim dianjurkan di awal setiap pembicaraan dan pekerjaan. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Setiap perkara yang tidak dimulai dengan membaca bismillahir-rahmanir-rahim, ia menjadi terputus,” Arti “terputus”, sedikit keberkahannya.

            Membaca basmalah juga disunahkan ketika berwudhu , berdasarkan sabda Nabi SAW, “Tidak sempurna wudu seseorang yang tidak menyebut nama Allah.” Menurut mazhab Syafi’I, disunahkan membaca basmalah ketika menyembelih, sedangkan menurut mazhab yang lain hukumnya wajib. Disunahkan pula membaca basmalah ketika hendak makan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi SAW, “Ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah sesuatu yang dekat denganmu.”

            Disunahkan juga membaca basmalah ketika hendak bersetubuh, berdasarkan sabda Nabi SAW, “Seandainya salah seorang di antara kalian ketika hendak bersetubuh mengucapkan, “bismillah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau berikan kepada kami (yakni anak yang akan Allah berikan)’, seandainya ia ditakdirkan mempunyai anak dari hubungannya disaat itu – anak itu tak akan dicelakakan oleh setan selamanya.”

            Menurut Ibn Jarir, Sifat ar-rahman atau pengasih Allah adalah untuk semua mahluk, dan ar-rahim-Nya untuk orang-orang mukmin. Lafaz ar-rahman juga nama Allah yang khusus yang tidak boleh digunakan oleh selain Dia (Artinya, jika hanya memakai Ar-Rahman atau Rahman saja. Jika seseorang mempunyai nama Abdurrahman tentu sangat bagus, karena artinya “hamba Allah yang bersifat rahman”).

            Di antara nama-nama Allah, Ada yang digunakan untuk mahluk, ada pula yang tidak digunakan untuk mahluk, seperti lafaz Allah, Al-Khaliq, Ar-Raziq, dll, termasuk Ar-Rahman, sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Sedangkan lafaz Ar-Rahim, Allah gunakan juga untuk menggambarkan Nabi SAW, yaitu pada firman Allah Bil-mu’miniina ra’ufunrahim (Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin). Sebagaimana allah menggambarkan manusia dengan menggunakan sebagian namanya, yaitu pada firman-Nya Faja’ainaahu sami’an bashira (Maka kami jadikan dia mendengar dan melihat).”



Alhamdu lillaahi Rabbil-aalamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam).



            Ibn Jarir mengatakan, pengertian alhamdulillah adalah bersyukur kepada Allah secara tulus karena Dia telah memberikan nikmat-nikmat yang tak terhingga kepada hamba-hamba-Nya. Juga karena Dia telah menyehatkan anggota tubuh mukallaf (orang yang berakal dan balig) untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya, di samping memberikan rezeki dalam urusan dunia mereka sehingga mereka dapat merasakan kehidupan yang menyenangkan. Karena itu, Tuhan berhak untuk dipuji atas semua nikmat itu. Alhamdulillah merupakan suatu pujian di mana Allah memuji dirinya yang juga mengandung perintah kepada para hamba-Nya untuk memuji-Nya.

            Di dalam hadist disebutkan, “Sebaik-baiknya zikir adalah ucapan La ilaha illallah, dan sebaik-baiknya doa adalah ucapan Alhamdulillah.” Dalam hadis lain, Rasulullah menyatakan, “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba lalu hamba itu mengucap Alhamdulillah, melainkan apa yang Dia berikan lebih utama daripada yang Dia ambil.”

            Pengertian rabb adalah pemilik yang bertindak terhadap miliknya, kemudian digunakan untuk pengertian tuan dan yang melakukan perbaikan. Semua pengertian itu sah terdapat pada diri Allah . Pada selain Allah, kata rabb hanya digunakan dengan dikaitkan pada kata lainnya seperti rabbud-dar (pemilik rumah), sedangkan kata rabb saja yang tidak diikuti kata lainnya hanya digunakan untuk Allah.



Ar-rahmanir-rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)



            Al-Qurthubi mengatakan, Allah menyifati diri-Nya dengan Ar-rahmanir-rahim setelah firman-Nya rabbil-alamin adalah untuk mengiringkan tarhib (pernyataan yang mengandung ancaman, meskipun implisit) dengan targhib (pernyataan yang mengandung kabar gembira). Di dalam kata rabb yang telah kita ketahui maknanya di atas terkandung pengertian ancaman, karena pemilik sesuatu berhak melakukan suatu tindakan terhadap miliknya, sedangkan ucapan ar-rahmanir-rahim mengandung kabar gembira.

            Di dalam hadis dikatakan, “Seandainya seorang mukmin mengetahui siksa yang ada di sisi Allah, niscaya tak seorang pun yang menginginkan surga-Nya (artinya, asal terhindar dari siksa-Nya saja sudah merasa sangat beruntung); dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi-Nya, niscaya tak seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya.”



Maaliki Yaumiddin (Yang menguasai hari kemudian)



            Sebagian ahli qiraah membaca maaliki dengan maliki (ma-nya tidak dipanjangkan). Kedua bacaan itu (baik ma-nya dibaca panjang maupun pendek) adalah bacaan yang sahih dan mutawatir (diriwayatkan secara sahih dari berbagai jalur yang sangat banyak). Disebutkannya Allah sebagai yang menguasai di hari kemudian, karena pada saat itu tak seorang pun yang mengakui memiliki sesuatu dan tidak ada yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.

            Di dalam sebuah ayat dikatakan, “Mereka tidak berkata-kata, kecuali yang telah diizinkan oleh Tuhan, Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar.” Raja yang sebenarnya adalah Allah, sedangkan penamaan segala sesuatu selain Dia dengan kata “raja” adalah kiasan saja. Sedangkan kata diin pada ayat ini berarti pembalasan dan perhitungan, karena pada hari ini semua mahluk diperhitungkan dan diberi balasan atas perbuatannya.



Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami beribadah atau menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)



            Menurut syara’, ibadah adalah yang menghimpunkan cinta, ketundukan, dan rasa takut yang sempurna. Arti ayat ini, “Kami tidak menyembah kecuali kepada-Mu, dan Kami tidak berserah diri kecuali kepada-Mu juga.” Inilah taat yang sempurna. Agama secara keseluruhannya terpulang kepada dua hal ini. Yang pertama membebaskan diri dari perbuatan syirik, sedangkan yang kedua membebaskan diri dari pengakuan memiliki upaya dan kekuatan, serta menyerahkannya kepada Allah SWT.

            Kalimat iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in karena beribadah kepada Allah itulah yang merupakan tujuan, sedangkan meminta pertolongan adalah perantara untuk menuju ke sana. Karena, pada dasarnya segala yang terpenting didahulukan, kemudian setelah itu baru yang penting, dan seterusnya.



Ihdinash-Shiraathal-Mustaqiim (Berilah kami hidayah menuju jalan yang lurus)



            Setelah memuji Zat yang akan diminta, tepatlah jika kemudian diikuti dengan mengajukan permintaan. Ini adalah kondisi peminta yang sempurna, yakni ia memuji siapa yang akan diminta, setelah itu baru meminta kebutuhannya. Cara demikian tentu akan lebih membawa keberhasilan. Karena itulah, Allah menunjukkan hal tersebut.

            Yang dimaksud hidayah di sini adalah bimbingan dan taufik. Para mufasir dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun khalaf (ulama kini) berbeda pendapat tentang penafsiran ash-shirathal-mustaqim sekalipun semuanya terpulang kepada satu poin yang sama, yaitu mengikuti Allah dan Rasul-Nya. Ada riwayat yang menyebutkan, ash-shirathal-mustaqiim artinya Kitabullah. Ada pula riwayat yang menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah agama islam.

            Ibn Abbas mengatakan, yang dimaksud adalah agama Allah yang tidak ada kebengkokan di dalamnya. Sedangkan Ibn Al-Hanafiyah menyebutkan, yang dimaksud adalah agama Allah di mana agama lainnya yang dipeluk oleh seorang hamba tidak akan diterima. Mujahid memberikan keterangan yang lain lagi. Ia mengatakan, ash-shiraahal-Mustaqiim adalah kebenaran. Pengertian ini mempunyai cakupan yang lebih luas dan tidak bertentangan dengan pendapat-pendapat yang disebutkan tadi.

            Jika ada yang bertanya, mengapa seorang mukmin meminta hidayah di setiap waktu salat padalah hal itu telah ia miliki, jawabannya sebagai berikut:

            Seorang hamba setiap saat dan di setiap keadaan butuh agar Allah menetapkan dan menguatkan hidayah yang telah dimilikinya. Maka Allah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya agar ia meminta kepada-Nya di setiap waktu agar memberikannya pertolongan, ketetapan (kemantapan), dan taufik.





Shiraathal-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghduubi ‘alahim waladh-dhaallin. (Yaitu, jalan orang-orang  yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat)



            Kalimat shiraathal-ladziina an’amta ‘alaihim menjelaskan ash-shiraathal-mustaqiim. Mereka yang telah diberi nikmat adalah yang disebutkan dalam surah An-nisa’, yang artinya, “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”

            Ibn Abbas menjelaskan, mereka adalah para malaikat, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Rabi’ bin Anas mengatakan, mereka adalah para nabi, sedangkan Ibn Juraij dan Mujahid berpendapat, mereka adalah orang-orang mukmin. Penafsiran Ibn Abbas tampak lebih umum dan lebih luas cakupannya..

            Pengertian orang-orang yang dimurkai adalah orang –orang yang mengetahui kebenaran tetapi berpaling darinya, sedangkan orang-orang yang sesat adalah yang tidak memiliki pengetahuan sehingga mereka berada dalam kesesatan, tidak mendapatkan petunjuk menuju kebenaran. Pengingkaran pertama (bukan jalan orang-orang yang dimurkai) diikuti dengan pengingkaran kedua (dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat) menunjukan, ada dua jalan yang rusak, yaitu jalan orang-orang Yahudi dan jalan orang-orang Nasrani.

            Selain untuk menguatkan pengingkaran, juga untuk membedakan dua jalan yang rusak itu agar kedua-duanya dihindari, karena jalan orang-orang yang beriman mencakup dua hal sekaligus: mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Orang-orang Yahudi mengetahui tapi tidak mengamalkannya, sedangkan orang-orang Nasrani tidak memiliki pengetahuan tentang itu tapi mengamalkannya. Karena itu, orang Yahudi dimurkai dan orang Nasrani berada dalam kesesatan. Hadis-hadis banyak yang menjelaskan hal itu. Di antaranya yang diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang firman Allah ghairil-maghdhuubi ‘alaihim, beliau menjawab, ‘Mereka orang-orang Yahudi,’ sedangkan waladh-dhaalliin, kata beliau, ‘Mereka orang-orang Nasrani,”

            Bagi orang yang membaca surah Al-Fatihah, disunahkan sesudahnya mengucapkan amiin, yang artinya, “Kabulkanlah permintaan kami, Ya Allah,” Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW, apabila membaca ghairil-maghdhubi ‘alaihim, sesudahnya mengucapkan amiin, sehingga dapat didengar oleh orang yang berada di saf pertama di belakang beliau.” (BlogBukuKita.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar